---
Ekonomi keluarga yang awut-awutan, rasa kecewa yang mendalam terhadap hidup, teror utang delapan kartu kredit yang sudah over limit dari beberapa bank, dan segudang masalah kehidupan lainnya, membuat pria kelahiran Jakarta, 29 Maret 1969 ini, banting stir. Hasilnya, penghasilanya sebulan mendekati angka 10 juta rupiah.

Bapak Dwi Malistyo, bersama Istri dan Anak tercinta
"Saya sudah cape hidup gali lobang tutup lobang," ujarnya mengawali kisahnya bergabung dengan bisnis MLM. Sebelumnya, jebolah Fakultas Teknik Elektro, Universitas Indonesia tahun 1995 ini adalah karyawan PT Prabuhana. "Gaji saya selama bekerja di situ tidak pernah cukup. Ternyata gelar insinyur saya sama sekali tidak bisa diandalkan dengan situasi perekonomian kita yang masih carut-marut. Saya jadi bingung dengan masa depan anak saya," lanjut Dwi ketika bertemu dengan Network Marketing.
Keluar dari kesulitan
Mengingat kesulitan yang ada, pilihan hidup Dwi ada di antara sukses atau mati! "Makanya, saya bersyukur sekali bisa bertemu dengan Pak Gatot, Junior Network Director Forever Young pemilik stokis di Bekasi. Sebagai upline dia banyak membantu saya untuk keluar dari semua kesulitan yang ada," akunya. Sepertinya, kisah pertemuan Dwi dan Gatot memang sudah ditakdirkan. "Saya juga ingin mengubah hidup," imbuhnya. Singkat cerita, suatu hari, Dwi iseng-iseng bukan internet,"Eh, saya tertarik untuk membuka web site www.swausaha.com," kenangnya. Sampai akhirnya, terjadi "kopi darat" antara Dwi dan Gatot. Baru setelah sepuluh kali diyakinkan manfaat dari peluang bisnis yang ditawarkan Gatot, ayah dari Hizkia William Eben (4 tahun) ini baru mau bergabung. "Tadinya, saya nggak percaya, mana ada sih bisnis pupuk dengan makanan kesehatan. Tapi, setelah dijelaskan maksudnya dan bagaimana menjalankannya, pupus sudah keraguan saya terhadap bisnis MLM yang ditawarkan. Saya melihat di bisnis MLM itu tersimpan mutiara yang indah," kenangnya sambil tersenyum.
Merasakan nikmatnya hidup
Bapak Dwi Malistyo, bersama Istri dan Anak tercinta
Tahun 2001, Dwi resmi terdaftar sebagai member Forever Young (PT Foreverindo Insanabadi). "Ini saya putuskan setelah tahun 1999, saya tidak bisa keluar dari krisis keuangan. Kemudian, saya juga mulai mengevaluasi diri," kata Dwi.
Adapun yang dikerjakan Dwi, awalnya adalah mengembangkan jaringan melalui internet. Perlahan tapi pasti, jumlah jaringan terus bertambah. Kira-kira 7 bulan, ia berhasil mencapai posisi Network Director, satu tingkat sebelum posisi Senior Network Director. Satu prestasi yang luar biasa! "Sejak itu, kehidupan ekonomi keluarga saya jadi lebih baik. Mungkin dalam sejarah Forever Young, saya tercepat. Ditambah dengan bonus yang saya terima juga melejit dengan cepat. Saya betul-betul merasakan nikmatnya hidup. Saya benar-benar bersyukur. Terima kasih juga untuk Pak Gatot dan tentunya Perusahaan Forever Young. Hidup saya tidak lagi dihantui ketakutan akan masa depan anak," papar Dwi. Namun diakui Dwi, bahwa kunci keberhasilannya ini ada pada kekuatan duplikasi. "Ini sudah terjadi. Bola salju tinggal digerakan saja," tambah pria yang dulu mengaku anti MLM. Sebagai Network Director, penghasilan Dwi rata-rata 9 juta rupiah per bulan. Ia juga berhak atas bonus mobil, motor, dan jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Tanah Air.

Bapak Dwi Malistyo, dalam Majalah Network Marketing
Tidak takut ditolak
"Dalam menjalankan bisnis MLM, salah satu masalah yang banyak dialami oleh teman-teman sesama pebisnis MLM lain adalah ditolak," katanya datar. "Imej bisnis MLM ternyata masih buruk. Otomatis, waktu saya banyak terkuras untuk memberikan penjelasan apa dan bagaimana bisnis MLM. Harapan saya cuma satu, pemahaman masyarakat kita tentang bisnis ini bisa berubah. Meskipun tidak drastis," lanjutnya.
Ketika Dwi sedang melakukan perekrutan, ditolak, didiamkan, atau dicuekin sudah menjadi hal yang biasa. "Karena saya pikir, inilah cobaan yang terbesar dalam bisnis MLM. Tapi, saya harus berjiwa besar. Saya terus meyakinkan diri dan orang lain bahwa bisnis ini adalah bisnis yang sangat manusiawi dan bukan bisnis penipuan," tegasnya. Beruntunglah Dwi, dari sekian banyak orang yang dia prospek, akhirnya punya pemahaman yang benar mengenai bisnis MLM. Buktinya, saat ini jumlah downline-nya berjumlah sekitar 9000 orang. "Memang saya akui tidak semua aktif. Tapi, saya senang, karena mereka semua tersebar di seluruh Tanah Air. Bahkan ada yang di Malaysia, Netherland dan Kanada," tegas suami dari Herlina Septiani Lasso ini dengan bangga.
Falsafah Pelayanan
"Ketika Anda sudah diterima oleh calon member, Anda harus fokus ke pelayanan atau servis. Ini kan sesuai dengan falsafah di Forever Young, mengasihi dan melayani downline," kata Dwi sambil membetulkan lengat kemejanya. Hari itu ia terlihat sangat bersemangat. "Gimana ya, MLM itu sudah jadi pilihan. Semua yang bergabung maupun yang belum bergabung adalah keluarga saya. Inilah yang selalu saya tanamkan ke diri, agar tidak patah semangat. Saya harus jadi pelayan yang baik," Lanjut Dwi.
Semua akan menjadi semakin mulus, jika dalam berbisnis komitmen kita juga jelas. Seperti yang dilakukannya selama ini. "Saya selalu siap membantu, khususnya untuk mengembangkan jaringan. Tak peduli jaringannya beda dengan saya. Saya percaya apa yang kita tabur, kelak kita akan menuai hasilnya," katanya lagi. "Tapi, satu lagi yang harus diingat, dalam berbisnis MLM, kita tidak boleh cepat putus asa. Dan jangan berhenti terlalu cepat. Ketika bonus terasa masih kecil, yakinkan ke diri semua bisa diatasi. Begitu pula dengan pengalaman saya sendiri," Aku pria yang rajin membaca buku-buku tentang orang sukses dan buku-buku mengenai MLM, seperti karangan Andrias Harefa. "Ternyata memang benar kan. Tidak ada orang yang bisa sukses dalam setahun atau dua tahun. Semua membutuhkan waktu yang lama," ujarnya sambil tersenyum dan menawarkan Network Marketing untuk menyeruput soft drink yang sudah disediakannya. Senja mulai menapak. Tak terasa obrolan kami terus bergulir. Ternyata Dwi teman yang asyik diajak ngobrol. Ia pun bercerita tentang cita-cita dan impian-impiannya.
Antara cita-cita dan mimpi
Cita-citanya sewaktu kecil, ingin menjadi insinyur. Dan tercapai. "Kalau sekarang saya melupakan gelar saya, bukan berarti saya tidak mendapatkan ilmu dari tempat saya menuntut ilmu selama ini. Tapi, dengan bisnis MLM sekarang ini, saya ingin mewujudkan mimpi-mimpi saya yang lain," ungkapnya lagi. Beberapa dari mimpi itu adalah bisa mensukseskan suatu group, ingin segera meraih posisi Senior Network Director, dan ingin jalan-jalan ke Eropa bersama groupnya. "Jika ini sudah bisa saya raih, saya akan memikirkan langkah-langkah selanjutnya. Bisa saja akan berkutat di dunia motivasi," ujar pria yang punya motto hidup dengan falsafah Forever Young, yaitu hidup adalah untuk mengasihi dan melayani menyudahi obrolan dengan Network Marketing.
0 komentar:
Poskan Komentar