Pages

Kamis, 18 Desember 2008

Jangan Membuang Nyawa Anda




Jangan Membuang Nyawa Anda

[Arsip Tulisan ke Milis Jaringan]

Tulisan ini saya persembahkan kepada seseorang yang telah meneteskan airmata dan ingin memberikan kebahagiaan abadi bagi keluarganya — yang puluhan tahun telah mempercainya sebagai seorang seorang suami dan ayah. Semoga engkau berhasil dalam perjuanganmu, sahabatku.

24 Maret 2003, ditulis di atas kereta Argolawu.
—————–

Tigapuluh menit seusai memberikan sharing di sebuah kota, seorang pria dengan rambut mulai memutih menjabat tangan saya lesu. Matanya lelah, tapi tersenyum kecil sambil tangannya terus memegangi tangan saya. Saya ingin tahu apa yang akan dikatakannya, maka saya ajak dia menjauh sedikit dari keramaian. Keluar ke pinggir taman yang disinari lampu sudut hotel.

Dia mulai berkata dengan lirih dan lambat, “Pak Dwi — saya mau tanya tentang sharing anda tadi. Usia saya saat ini sudah 54, saya adalah orang yang rajin bekerja sejak sebelum matahari terbit hingga jauh setelah matahari terbenam. Rasanya saya merasa diperlakukan tidak adil oleh hidup ini. Saya melihat anda bisa pensiun muda, dan membawa isteri anak anda jalan-jalan ke kota yang jauh dan tinggal di hotel ini. Pak Dwi, saya ingin seperti ini !. Tapi saya sudah kehabisan waktu. Usia saya sudah tinggal sedikit, namun saya tak pernah bisa membahagiakan keluarga saya”. Air matanya mengalir keluar. Dia berhenti berbicara.


Saya menunggu dia menyelesaikan bicaranya. Kelihatannya dia ingin mencurahkan kekesalan perjuangan seumur hidupnya malam ini. Lalu dia melanjutkan, “Saya tahu bahwa saya tidak mungkin bekerja dalam beberapa tahun lagi. Saya baru sadar, bahwa terlalu banyak waktu telah disia-siakan. Hingga kini tidak ada yang saya miliki. Saya akan keluar dari pekerjaan saya tanpa membawa sesuatu untuk menunjang hari tua saya. Tidak mungkin saya bisa pensiun bahagia, saya tetap harus bekerja sampai usia habis agar keluarga saya bisa makan”.

Matanya memperlihatkan sebuah kilas balik perjuangannya bertahun-tahun bekerja di dunia, tapi perjuangan itu dihantam kenyataan bahwa di ujung usianya kini tidak tetap tidak punya apa-apa. Yang paling menggelisahkannya adalah pemikiran bahwa keluarganya akan sengsara ketika dia pensiun nanti. Puluhan tahun setia bekerja, tapi hanya untuk sekedar hidup. Dan setelah ini, semuanya selesai. Dia tidak punya harapan lagi.

“Pak Dwi, terus terang saya takut terjun di dunia MLM. Karena takut, maka saya bertahan bekerja lebih giat lagi di kantor saya. Saya sudah membaca email penawaran anda 2 setengah tahun lalu, tapi saya abaikan karena tawaran anda ini cuma sebuah MLM. Namun 2 setengah tahun sudah berlalu, saat ini saya melihat kerja keras anda membuahkan hasil untuk keluarga anda — sementara 2 setengah tahun berlalu begitu saja bagi saya. Umur saya di dunia berkurang 2 setengah tahun tanpa perbaikan apapun, tapi anda sudah bisa maju banyak. Saya bukannya menyalahkan anda, tapi kepada siapa lagi saya mencurahkan kegelisahan saya ?. Saya takut menghadapi kehidupan yang akan saya hadapi ketika pensiun, tapi saya juga takut masuk dunia yang anda geluti seperti ini. Saya mengkhawatirkan keluarga saya, isteri dan 3 anak saya”.

Saya melihat kegelisahan dan air mata yang kembali mengalir. Orang ini sungguh khawatir, dia masuk ke dunia dan akan keluar dari dunia tanpa membawa perubahan apa-apa. Dia juga tidak tahu akan bertanya apa kepada saya. Dia hanya mencurahkan kekesalan hidupnya.Udara malam mulai terasa dingin. Saya berkata, “Pak. Saya lihat anda adalah seorang suami dan ayah yang sangat baik. Tidak banyak orang yang sedemikian bertanggung jawab kepada keluarganya seperti anda ini. Anda sudah memberikan puluhan tahun nyawa anda bagi kehidupan keluarga. Saya juga telah belajar sebuah komitmen dan tanggungjawab dari kisah anda ini. Anda memang insan luarbiasa”. Saya berhenti sejenak. Dia memperhatikan saya terus, menunggu lanjutan kalimat.”Tapi saya melihat anda telah puluhan tahun bekerja keras untuk orang lain, untuk bisnis yang dimiliki orang lain. Orang lain itu bisa mewariskan perusahaan tsb kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Sementara anda tidak punya hak apa-apa atas kepemilikan perusahaan. Sebentar lagi anda keluar dari perusahaan itu, tanpa membawa sesuatu. Sementara posisi anda di kantor dengan cepat digantikan oleh orang lain. Perusahaan tsb tidak akan pernah kehilangan apa-apa. Tapi anda telah kehilangan puluhan tahun nyawa dan hidup anda yang sangat berharga di dunia untuk membangun milik orang lain”.

Matanya lebih bulat menatap saya. Saya meneruskan, “Hal yang paling disayangkan selama hidup anda ini bukanlah gaji yang kecil. Tapi anda telah menukar nyawa anda sepuluh jam sehari untuk orang lain. Dan ini baru anda sadari ketika takaran nyawa di dunia sudah semakin menipis. Anda telah membuang hal yang paling berharga di dunia, karunia Tuhan yang paling indah yang pernah diberikan, yaitu kehidupan”. Matanya masih bulat menatap saya, barangkali tidak pernah ada orang lain yang mengatakan seperti ini kepada dia. “Saya tidak akan mau lagi kembali bekerja untuk kepentingan orang lain, kemarin ada yang menawari saya gaji 5 juta sebulan untuk memperkuat Sales Marketing. Tapi harga ini terlalu murah untuk ditukar dengan nyawa saya, akhirnya saya tidak bisa menerima. Lebih baik saya mencari pinjaman modal mendirikan warung-warung tegal, karena bisnis warung tegal adalah bisnis milik sendiri dan kelak bisa diturunkan kepada anak cucu saya”.

Tampaknya dia baru saja menerima konsep yang paling gila yang pernah di dengar. Dia baru mendengar ada orang yang lebih rela membangun warung tegal daripada ditawari jadi manajer marketing, karena alasan hanya mau membangun bisnis milik sendiri. Bukan milik orang lain. Sorot matanya memancarkan kebingungan dan ketidakpahaman atas pemikiran ini. Ucapan saya bertabrakan dengan keyakinannya selama puluhan tahun. Namun dia masih ingin mendengar lebih banyak, sebab dia masih gelisah menanti mendekatnya masa pensiun.”Kenapa saya rela menggunakan waktu dalam kehidupan saya demi membangun bisnis MLM Forever Young ?. Saya tidak ikut-ikutan orang lain di bisnis ini !. Saya telah merenungkan dan memakai kontemplasi lama sekali sebelum saya putuskan mengubah arah kehidupan saya menjadi leader sebuah MLM bernama Forever Young Indonesia. Ini adalah bisnis yang PASTI !. Ini adalah sebuah perusahaan yang saya miliki sendiri. Saya tidak mau cuma sekedar bermain 5 atau 10 tahun di industri MLM. Saya mau mewariskan jaringan saya kepada anak saya Hizkia ketika royaltinya mencapai Rp 200 juta sebulan. Lalu Hizkia akan mewariskan kepada cucu saya ketika royalti jaringan ini mencapai setengah milyar sebulan. Saya menukar nyawa yang saya gunakan hanya untuk bisnis yang menghidupi keluarga saya sekian turunan ke bawah. Sesulit dan sesukar apapun bisnis MLM, tapi saya tidak akan pernah menyesal di usia tua saya nanti”.

Dia tersenyum mendengar visi dan impian saya.”Kemarin di kota lain ada orang yang saya ajak sama-sama di Forever Young. Dia katakan cuma mau bisnis yang PASTI-PASTI saja. Saya jawab bahwa ini adalah bisnis yang paling PASTI !. Di Forever Young kita PASTI tidak bangkrut. Bayangkan kalau kita mendirikan sebuah bengkel cuci mobil di pinggir jalan, suatu ketika ada pesaing yang mendirikan 10 bengkel cuci mobil di jalan yang sama. Bukankah income kita PASTI melorot ?. Kalau saja saat ini kita bekerja sebagai karyawan swasta, bukankah kita PASTI akan keluar dari perusahaan itu baik keluar akibat PHK atau akibat pensiun ?. Di Forever Young pada tingkat tertentu kita PASTI akan mendapat income. Andaikan saya memiliki 3.000 anggota group, selama anggota group saya suka minum teh, suka minum kopi, dan suka menyikat gigi dengan Forever Smile maka selama itu saya PASTI akan mendapat income. Tanpa kenal pensiun !”.

Orang ini menundukkan kepala sambil mendengarkan. “Saya memiliki saran yang keras buat anda. Milikilah perusahaan dan bisnis milik anda sendiri. Apapun bisnis itu, tidak masalah. Yang penting harus milik anda sendiri. Apakah anda mau buka bengkel, mau buka warteg sekalipun tidak masalah. Bisnis ini akan bertahan tujuh turunan dibandingkan pekerjaan anda. Anda hanya bekerja untuk mencari pengalaman saja, selebihnya ciptakan bisnis anda sendiri. Lebih baik an da yang merekrut satu dua karyawan dibandingkan anda harus direkrut menjadi karyawan orang lain. Kalau anda takut dengan usia yang semakin senja, carilah bisnis-bisnis yang memiliki konsep franchise dengan kekuatan multiplikasi. Ini adalah bisnis yang paling aman untuk usia anda. Bila anda memilih masuk dan berjuang di Forever Young, ketahuilah bahwa ada sistem networking yang diciptakan drg Haris upline kita. Namanya Five-in-One. Sistem networking ini teruji menjadikan seseorang meraih posisi puncak di Forever Young dalam waktu 5 bulan saja. Apakah anda tidak tertarik memakai lima atau enam bulan dalam kehidupan anda untuk meraih royalti buat pensiun anda ? Dan nanti anda bisa bebas waktu seperti saya — tidak khawatir masa depan dan usia yang semakin dekat senja”.

Dia memandang taman dan kolam, sambil memegang besi penyangga dinding. “Baik pak Dwi. Seberat apapun pekerjaan dan bisnis, memang saya harus berani ambil keputusan. Kalau saya tidak berubah, maka saya akan terus bekerja dalam usia pensiun saya. Pak Dwi, doakan agar saya berhasil. Saya membutuhkan waktu satu dua hari untuk kontemplasi. Saya janji tidak akan merenung lama-lama, karena nyawa saya terus berkurang setiap hari”. Saya menyalami tangannya, “Semoga sukses ! Jangan membuang nyawa anda dengan sia-sia”.

0 komentar:

Poskan Komentar