
Salam sukses !.
Teman-teman yang luarbiasa, saya ingin menyumbangkan sedikit tulisan mengenai Bekal BO (business opportunity). Biasanya dalam BO kita akan menemui pertanyaan-pertanyaan yang sulit di jawab, nah saya coba menguraikan satu demi satu masalah yang bisa timbul beserta solusinya. Semoga bisa berguna dan membuat diri anda semakin percaya diri (Pede).
Kesalahpahaman : "Di MLM, Upline yang di atas selalu menerima bonus lebih besar dibanding downline-nya".
Dibawah ini adalah obrolan fiksi, isinya rangkuman obrolan saya dengan banyak orang tentang MLM.
Teman : "Dwi. Saya nggak akan pernah ikutan bisnis MLM. Tahu nggak ? Di bisnis MLM itu sangatlah tidak fair. Orang yang lebih dulu masuk, bisa memeras sebanyak mungkin hasil kerja downline-nya. Sementara dia sendiri enak-enakan menerima hasilnya di atas. Downlinenya kerja matian-matian, sementara dia yang di atas lah yang menuai hasilnya. Tidak, saya nggak akan ikutan bisnis kejam seperti itu !".
Dwi : "Wow..wow..wow...semangat banget sih. Wah. Ini baru luarbiasa. Saya senang ada satu pemikiran kritis tentang bisnis MLM. Yok, kita kupas sama-sama. Kalau memang MLM itu adalah industri yang ilegal dan tidak fair, saya akan keluar meninggalkan bisnis semacam itu. Okey ?. Kita diskusi yah ?".
Teman : "Boleh aja, siapa takut ?".
Dwi : "Kita bahas dulu bisnis konvensional yah ?. Nanti kita baru mencari persamaannya dengan bisnis MLM. Begini, katakan saja kamu mau menjadi agen distributor Teh Botol Sosro. Apa yang kamu lakukan ? Tentunya kamu harus punya modal untuk beli beberapa krat Teh Botol buat modal, lalu kamu cari tempat yang bagus. Katakan saja, kamu punya modal Rp 500.000 yang dapat 40 krat Teh Botol. Teh Botol ini kamu ambil di Agen Pusat kota kamu. Lokasi kamu sudah ada, yaitu di terminal Cililitan dan kamu mempekerjakan 2 orang anak remaja untuk mengedarkan Teh Botol."
Teman : "Sampai disini jelas. Terusin deh".
Dwi : "Setelah satu minggu, semua Teh Botol kamu habis. Kamu girang karena modal sudah kembali. Kamu sekarang beli lagi 80 Teh Botol dan mempekerjakan 4 orang remaja. Kira-kira ini mungkin nggak ?"
Teman : "Ya mungkin saja. Kenapa tidak ?".
Dwi : "Apakah disini kamu lihat, bahwa semakin banyak kamu menjual Teh Botol, maka orang di Agen Pusat akan semakin kaya ?. Kamu yang kerja, orang lain yang untung. Kalau bulan depan kamu bisa jual 1000 krat Teh Botol seminggu, mungkin yang jadi Agen Pusat akan beli mobil baru ?. Sama saja khan dengan MLM ? Downline kerja tapi upline juga dapet untung ?. Kenapa di bisnis lain suatu 'pengambilan untung' di katakan wajar sementara di bisnis MLM tidak boleh ?".
Teman : "Kok di bisnis lain juga ada sistem nggak fair sih ? Orang lain kerja, sementara ada yang lainnya ongkang-ongkang kaki mengambil untung".
Dwi : "Bisnis itu tidak salah !. Itulah yang namanya bisnis distribusi barang. Kalau saya Agen Pusat teh botol, maka saya akan dapat keuntungan dari setiap Teh Botol yang kamu jual. Tapi kamu khan dapat untung juga dari tiap teh botol yang terjual ? Kamu juga enak lho, tidak perlu bikin pabrik Teh Botol dan keluar biaya iklan. Kamu cuma JUALAN teh botol saja !. Memang inilah bisnis distribusi"
Dwi : "Di bisnis MLM juga demikian. Malahan sistem di perusahaan MLM anggota APLI dibuat sedemikian ketat sehingga downline yang dibawah pun bisa menyaingi bonus dan jenjang upline diatasnya. Di Forever Young saya menyaingi jenjang dan bonus upline langsung saya. Sementara bonus saya juga dilampaui downline saya. Ini tergantung siapa yang kerja lebih keras".
Teman : "Jadi ternyata di MLM, upline belum tentu bonus nya lebih besar dari downline yah ?".
Dwi : "Benar, asalkan MLM itu adalah anggota APLI (asosiasi penjual langsung indonesia). Di dunia ini banyak aktivitas penggandaan uang dengan kedok sistem MLM. Namanya yang benar adalah skema piramida (Pyramid Scheme), di Malaysia disebut Skema Cepat Kaya. Disini memang upline akan selalu menerima bonus lebih tinggi dibanding downline. Yang ikut beginian cuma orang malas yang mimpi punya gaji besar tanpa kerja. Di MLM sejati kita dibayar untuk menciptakan pasar. Bisnis kita adalah pemasaran langsung dengan merekrut para pemasar (networker) agar produk MLM kita terjual dan ada omzet yang masuk.
Teman : "Bagaimana membedakan MLM asli dan palsu ?".
Dwi : " Cara paling aman adalah dengan mengikuti perusahaan MLM anggota APLI yang jumlahnya 33 buah itu. Sebab masyarakat awam tidak mampu membedakan MLM sejati yang
bekerja mendistribusikan produk, dengan MLM palsu yang melakukan arisan uang. MLM yang asli itu uang pendaftarannya murah, sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, sementara MLM palsu bisa ratusan ribu. Kenapa ? Sebab di MLM asli, bonus
utama kita di dapat dari transaksi produk. Sementara di MLM palsu, uang pendaftaran itulah yang dipakai membayar bonus upline".
Teman : "OK Dwi. Saya jelas sekarang. Kalau bisnis ini fair dan kerja keras, saya akan mau bergabung. Thanks buat informasinya".
Dwi : "Sama-sama. Sukses !".
1 komentar:
Hallo boss Dwi,
Ditunggu artikel yang lainnya lho.
Sukses ya....
Salam dari Liem
Poskan Komentar