Pages

Kamis, 18 Desember 2008

“Who moved my cheese ?”, Bersiaplah untuk perubahan.




Salam luarbiasa !.

Teman-teman, seorang psikolog pernah menjelaskan hasil dari suatu riset mengenai penyebab konflik dan pertengkaran di dalam rumah tangga Indonesia. Menurutnya ada 2 penyebab konflik sehari-hari yang sangat umum terjadi.

(a) Di keluarga kurang mampu secara ekonomi, konflik hampir selalu berkisar mengenai masalah kekurangan uang.

(b) Di keluarga berada, konflik hampir selalu berkisar mengenai masalah kepercayaan terhadap satu sama lain.


Karena negara kita ini dihuni oleh mayoritas masyarakat kurang mampu, maka bisa dipastikan pertengkaran suami isteri yang sering terdengar oleh tetangga adalah selalu berkaitan dengan masalah kekurangan uang. Tidak ada uang untuk beli beras, tidak ada uang untuk bayar sekolah anak, tidak ada uang untuk berobat ke dokter, dan lain sebagainya.

Kehidupan yang selalu dihantam pertengkaran pastilah akan menghabiskan energi yang luarbiasa banyak. Karena itu sebenarnya pemecahan masalah agar keluarga-keluarga Indonesia bisa lebih harmonis sebenarnya cuma satu : penuhi kebutuhan ekonomi !. Tidak usah berlimpah harta, yang penting adalah cukup dan tidak kekurangan uang.

Bagaimana caranya keluar dari kemiskinan ?.

Kenapa negara Indonesia sangat sulit keluar dari jerat kemiskinan di
banding negara Asia Timur lainnya ?.

Seorang motivator yang sangat dahsyat dari Malaysia pernah berujar demikian, “Apa yang menyebabkan seseorang tenggelam di dalam danau ?. Sebabnya adalah dia TETAP berada disana, dan bukannya bergerak BERPINDAH ke tempat lain !” [Billie PS Lim, Berani Gagal]. Kata-kata ini merupakan sebuah kunci yang sangat jelas tentang bagaimana caranya kita memecahkan masalah kemiskinan. Kalau saat ini kemalangan selalu menghantam kita, maka kita harus mulai berpindah. Kalau kita TETAP berada disana, maka kita akan TENGGELAM.

Kebanyakan dari kita sudah tahu bahwa finansial kita tidaklah akan pernah cukup bila mengandalkan satu pekerjaan saja. Kita mulai kasak-kusuk kiri kanan mencari job sampingan, mencari obyekan kiri kanan, — namun semuanya sungguh akan gagal bila pikiran kita masih berada di TEMPAT. Menambah pekerjaan tidaklah akan memecahkan finansial. Kita harus mulai berani berpindah, keluar dari sarang kenyamanan kita dan mulai mencari kebebasan finansial dengan membangun bisnis milik kita sendiri. Bersiaplah untuk perubahan.

Lucunya, tidak setiap orang siap dengan perubahan. Banyak yang memilih tenggelam bersama kapal tua-nya, karena takut pindah ke sekoci yang kelihatannya labil dan tidak aman. Kisah tentang perubahan inilah yang dituangkan oleh motivator dan penulis buku Spencer Johnson MD dalam bukunya “Who Moved My Cheese”. Isi buku ini sungguh luarbiasa. Saya membacanya dalam dua jam, namun ide yang terkandung di dalamnya terus melekat hingga sekarang. Untuk menambah wawasan anda, saya mereferensikan buku ini untuk anda baca.

Dalam buku ini ada cerita dua ekor tikus bernama Sniff dan Scurry, lalu juga ada dua kurcaci kecil bernama Hem dan Haw. Keempatnya tinggal dalam sebuah labirin yang berisi Cheese [keju]. Pada awalnya keempatnya berlari-larian dalam labirin untuk mencari Cheese, hingga menemukan Cheese di Station-C. Cheese ini melambangkan finansial, persahabatan, atau kenyamanan dalam hidup pergaulan kita. Suatu
ketika, Cheese di Station-C mulai habis. Dan sesuai sifat tikus yang berpikiran sederhana [simpel], Sniff dan Scurry langsung berlarian ke dalam labirin dan mencari-cari Cheese yang baru untuk dinikmati. Tapi Hem dan Haw yang adalah manusia kecil [kurcaci] memiliki pikiran yang lebih kompleks.

Kurcaci ini sudah merasa nyaman tinggal di Station-C dan tidak ingin pindah, apapun yang terjadi. Walau tahu bahwa Cheese yang mereka nikmati sudah habis, tapi mereka tak mau pindah. Hem tidak mau tahu [”I want my cheese”] dan menyalahkan orang lain [”who moved my cheese”]. Apapun yang terjadi dia tetap akan tinggal disana. Dia takut berlarian di dalam labirin seperti dulu. Sementara Haw berpikiran lebih terbuka. Dia mulai mengubah cara berpikirnya, dan bersiap untuk menghadapi perubahan. Akhirnya dia berani meninggalkan Station-C, dan menuliskan buah pikirannya di dalam dinding labirin untuk dipelajari oleh temannya Hem. Sampailah kelak Haw di Station-N yang berlimpah dengan Cheese aneka rasa yang jauh lebih menarik. Dan disana dia sudah dinantikan oleh tikus Sniff dan Scurry.

Membaca buku ini sangatlah bermanfaat untuk anda semua yang mengalami perangkap di dalam hidup. Bila anda sudah puluhan tahun mengalami perangkap kemiskinan, bersiaplah mengubah sikap dan cara berpikir anda seperti Haw untuk menemukan kebebasan finansial anda. Mulailah mencari Cheese anda sekarang ini, atau selama-lamanya anda akan tenggelam karena tidak mau berpindah dari tempat anda terbenam. Bila perangkap anda adalah pergaulan yang menyiksa, mulailah mencari Cheese anda seperti sahabat dan teman-teman baru yang mengerti anda. Janganlah takut untuk perubahan, sebab Cheese di tempat lain mungkin lebih enak — bila Cheese anda saat ini sudah habis dan tidak ada lagi yang bisa dinikmati.

Ketika saya menamatkan buku ini, sudah saya tetapkan di dalam hati saya untuk selalu menggeser posisi saya dan memindahkan Cheese saya. Jangan mau diam di tempat, karena bila terlalu nyaman di satu tempat maka anda kelak akan tenggelam.

Bersiaplah untuk berubah.
Sampai jumpa di Cheese Station !!!.

Depok, 00.30 dini hari.

D w i M a l i s t y o.

0 komentar:

Poskan Komentar