Thursday, February 25, 2016

Jakarta kekurangan fasilitas ini : Toilet berbayar

Publikasi di:
http://www.kompasiana.com/dwim/jakarta-kekurangan-fasilitas-ini-toilet-berbayar_56d001c53097735e10165ea4

Pagi ini saya membaca berita tentang pemerintah Kamboja membangun toilet senilai setengah milyar rupiah untuk menyambut kunjungan Putri Maha Cakri Sirindhorn dari Thailand. Yang ironisnya tidak digunakan sama sekali oleh sang putri. Beritanya ada disini. Setelah membaca berita ini, terbersit ide menulis untuk dituangkan di Kompasiana tercinta.  

Buat warga Jakarta, yang sedang kebelet pipis atau BAB di tengah jalan, apa yang harus anda lakukan ?. Sebagai penduduk ibukota, anda terbiasa untuk mencari sebuah mall atau terminal. Dan disana anda akan bertanya dimana toilet terdekat. Atau alternatif lain, anda mampir di sebuah rumah makan dan meminjam kamar kecilnya. Kalau di tengah perjalanan dengan mobil, anda akan berhenti di SPBU terdekat. Pasti ada toilet di lingkungan SPBU.

Tapi bagaimana dengan turis asing yang sedang berjalan-jalan menikmati ibukota ? Mereka tidak semudah anda bertanya kesana-kemari. Dan parahnya ibukota Jakarta memang kekurangan fasilitas yang penting ini : toilet berbayar.

Saya memang tidak terlalu bepergian ke luarnegeri. Kalau ke luarnegeri, paling-paling jika ada tugas dari kantor saja. Namun saya terkesan dengan fasilitas toilet-toilet berbayar yang disediakan di tempat umum di sana. Buat kami orang Asia yang kebelet pipis atau BAB di negeri asing, cari saja tempat toilet umum seperti gambar di bawah.

Disain toiletnya manis dan tidak menyerupai WC-WC umum milik kita di Indonesia.


Contoh toilet berbayar di kota Oslo [living-by-chance.blogspot.com]


Ini fasilitas toilet berbayar di Toronto [blogto.com]
Situasi di dalamnya dijamin rapi, resik dan juga harum. Memang toiletnya tidak gratis. Kita harus bayar untuk dapat membuka kunci toilet-nya. Tapi ini sepadan daripada kita harus numpang pipis di restoran-restoran. Kalau urusan kebelet, rasanya di Jakarta bayar beberapa ribu rupiah tidak masalah kok.


Tampak dalam sebuah toilet berbayar [blogto.com]


Bayar toiletnya tidak mahal kok [pinteres.com]

Saran buat pejabat di Pemprov DKI, bagaimana bila mulai dianggarkan untuk mulai menyediakan toilet-toilet berbayar di tempat-tempat public di Ibukota ?. WC umum yang ada saat ini sudah waktunya dirombak dengan disain yang elegan dan unik seperti konsep toilet berbayar di negara lain. Untuk mencegah adanya aksi corat-coret atau pemakai yang tidak membersihkan toilet, bisa direkrut tenaga penjaga toilet. 

Saya teringat tenaga penjaga parkir ibukota yang mengawasi meteran parkir ibukota, bisa digaji di atas UMR. Nah tenaga toilet yang mengawasi beberapa toilet di satu kawasan tentunya bisa juga diupah setara UMR. Satu penjaga bisa berputar dengan sepeda mengawasi toilet-toilet berbayar yang menjadi tanggungjawabnya.
 
Untuk pembayaran penggunaan toilet, bisa dengan uang receh atau memakai kartu e-Payment (Flazz, e-Money, dll).
Yang simple ini kayaknya cocok untuk Jakarta ? [shelley.bump.us]




Toilet terbuka ini mengajar para cowok supaya tidak pipis di pohon [timlikestotravel.blogspot.com]

Penempatan toilet berbayar bisa dimulai di dekat terminal Busway. Lalu disediakan di setiap taman dan area publik, terutama di jalan yang sering dilewati turis wisatawan. Dengan tersedianya fasilitas ini, maka DKI Jakarta akan lebih ramah wisatawan dan mendukung program-program pemerintah pusat untuk menggalakan income dari dunia wisata.

Penegak-Pandega: Ide Revitalisasi Pramuka

Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/penegak-pandega-ide-revitalisasi-pramuka_54f681c8a33311f3158b4d93


Aktivitas Pramuka segala usia [55cascadia.org]



Revitalisasi, apa kabarnya ?

Wah, tidak terasa saat ini sudah masuk ke bulan Agustus lagi. Ini adalah bulan dimana Hari Pramuka dirayakan di seluruh negeri. Sudah lama saya ingin membuat tulisan mengenai Pramuka, setelah sempat terkaget-kaget melihat sekolah SMA Negeri anak saya di kawasan Halim - Jakarta Timur, ternyata sudah tidak ada yang namanya ekstra kurikuler Pramuka lagi.

Apa kabarnya ya ribut-ribut Revitalisasi Pramuka kemarin ?. Apakah ada update yang kebetulan belum saya baca ?. Bisakah saya menerima informasinya ? Lalu apakah saya boleh menuliskan satu ide Revitalisasi lagi buat para konseptor Pramuka di Kwartir Nasional dan Daerah ?. Idenya bukan untuk keseluruhan jenjang lho. Tulisan ini hanya akan fokus di area Penegak dan Pandega yang kelihatannya tambah tergusur dimakan zaman.

Penegak-Pandega, Cangkang tanpa isi -- sebuah mesin tanpa software.

Zaman saya sekolah, kepramukaan berada di era kejayaannya. Masa itu belum ada internet, apalagi Android dan Blackberry. Siaran televisi hanya ada satu channel kesayangan, alias TVRI. Mungkin karena kurangnya aktivitas anak-anak dan pemuda, maka saya ikut di Pramuka. Saya mengikuti sejak Siaga Mula, hingga berakhir menjadi Pandega di bangku kuliah. Semua jenjang sudah pernah saya ikuti.
Buat saya, konsep aktivitas Siaga dan Penggalang sudah sangat jelas. Hanya saja sejak masuk di posisi Penegak dan Pandega, rasanya semua orang masih mencari-cari bentuk yang pas disana. Ada semacam kegamangan untuk mengerti dan mengembangkan bentuk Penegak-Pandega.

Saya pernah membaca, bahkan Lord Baden-Powell pun pernah bingung untuk memikirkan bentuk aktivitas bagi para Rover dan Ranger seusia Penegak di masa itu. Sehingga kalau boleh membuat perumpamaan, saya -- sebagai seorang programmer -- melihat dunia Kepramukaan Penegak dan Pandega bagaikan sebuah mesin komputer yang melulu hanya berupa hardware, tapi tanpa isi software di dalamnya. Atau dalam kata lain, saya ibaratkan sebagai cangkang tanpa kerang hidup di dalamnya.

Ketika saya menjadi Penegak dan juga Pandega, aktivitas disana lebih diarahkan untuk membantu pembina dalam mengelola kegiatan Siaga-Penggalang. Jadi lebih dipersiapkan untuk dijadikan calon pembina lagi. Aktivitas keremajaan di dalam dunia Penegak-Pandega menjadi kabur. Arah ke depan seorang Penegak-Pandega jadi tidak jelas. Hanya kesana-kesini ikut aktivitas SAKA, atau membina di Gugusdepan.  

Revitalisasi harus serius menggarap kemandegan ini supaya Pramuka di usia ini tidak semakin punah.

Ide Revitalisasi ala saya

Saya sebetulnya malu menuliskan tulisan ini. Tapi tidak apa-apalah, ini demi kecintaan saya terhadap dunia Pramuka yang pernah membesarkan saya. Mohon jangan ada yang kesal lebih dulu membaca tulisan ini. Harap menahan dulu kritikannya ya, jika ada yang sesuatu yang baik - mungkin bisa sama-sama kita kembangkan.

Revitalisasi ala saya adalah dengan membereskan dulu tujuan aktivitas Penegak-Pandega secara mendasar. Orang Dewasa mau apa dengan Penegak-Pandega ?, Dari situ kita masuk lebih ke bawah membereskan masalah yang lebih detail.

Saya pernah menuliskan sebuah artikel di Kompasiana ini : Ajari Anak Kita Bertahan Hidup . Tulisan ini saya buat karena keprihatinan saya terhadap ketahanan hidup anak-anak muda. Saya mengusulkan dalam dunia Penegak-Pandega dimasukkan sebuah konsep dasar untuk mampu "Bertahan Hidup". Bertahan Hidup bukan saja di dunia luar seperti Hutan Rimba, namun juga bertahan hidup di dalam masyarakat. Sehingga jangan sampai terjadi ada 'alumni' Pramuka yang bangkrut dalam usahanya, lalu memilih jalan bunuh diri.
Jadi Konsep paling dasarnya adalah Bertahan Hidup. Bertahan hidup di luar sistem masyarakat, dan bertahan hidup di dalam sistem masyarakat. Dari 2 sub konsep ini saja nantinya akan tercipta banyak game, materi latihan dan aktivitas yang menarik untuk remaja dan pemuda. Dari sisi orang Dewasa, kita bisa mengharapkan dunia Penegak Pandega akan melahirkan generasi muda yang tangguh, tahan banting, dan bahkan mampu menjadi pelopor wirausahawan yang akan menarik banyak tenaga kerja. Karena memang di sub konsep Bertahan Hidup dalam sistem masyarakat, arahnya akan ke motivasi menjadi wirausaha mandiri. Dari sisi remaja-nya, dunia Penegak-Pandega tetap memberi aktivitas alam bebas, dan game petualangan menarik, namun membekali pribadi dengan ilmu survival, personal finance dan kewirausahaan yang kental untuk hidup nanti.

Baiklah, tulisan dipersingkat. Inti dari tulisan di atas adalah, memasukkan sebuah ide baru sebagai software di dalam dunia Penegak-Pandega. Tidak perlu merombak hardware dan sistem kepramukaan lain yang sudah ada di sana. Jenjang Penegak Bantara, Penegak Laksana dan Pandega tetap dipertahankan, dengan memuat konten baru.

Penegak Bantara :

Game dan aktivitas di dalam jenjang Bantara lebih banyak diatur secara berkelompok untuk mempelajari bagaimana survival di alam bebas. Aktivitas ini sangat cocok dilaksanakan di usia belasan tahun dan memakai sistem Sangga. Tujuan : menanamkan konsep bertahan hidup. Di alam bebaspun, manusia harus mampu bertahan. Disini calon Penegak Bantara akan diberikan orientasi perkemahan alam bebas, navigasi, mencari air dan bahan makanan darurat, membuat api darurat, bivak, penyeberangan sungai, dan sejenisnya.
Aktivitas alam bebas yang dijalani Penegak Bantara, walau terlihat sama dengan Pecinta Alam dan Militer tapi punya konten yang berbeda. Perbedaannya adalah pada penanaman kesadaran bahwa kita harus mempertahankan hidup kita sekuat-kuatnya. Pesan dari pembina untuk remaja Bantara adalah : sesukar apapun hidup kalian nanti, kalian harus tetap mempertahankan hidup itu -- jangan pernah berpikir untuk mengakhiri dengan sengaja. Bahkan jika tidak sanggup hidup dalam masyarakat, kalian tetap bisa hidup di alam liar.

Seorang Bantara dikukuhkan setelah semua pengetahuannya diuji dalam sebuah perkemahan pengembaraan. Dalam aktivitas ini, ada 2 hari pengembaraan menggunakan peta melewati wilayah alam bebas. Dimana di beberapa titik harus berkemah darurat, dan menggunakan pengetahuannya untuk survival secara berkelompok.

Penegak Laksana :

Untuk tingkatan Penegak Laksana, orientasinya bukan lagi Bertahan Hidup di alam bebas. Seorang Laksana mulai dilatih untuk mampu bertahan hidup seorang diri di dalam sistem masyakarat. Kalau tadinya aktivitas seorang Bantara selalu dilakukan beramai-ramai di alam bebas, untuk Laksana sudah berbeda. Laksana harus mampu survival secara pribadi di tengah masyakat. Harus mampu mulai memenuhi kebutuhan hidup sederhana seorang diri -- dan mengurangi ketergantungan dari sistem masyarakat.

Misalnya jangan membeli cabe di pasar, tapi mulai menanam cabe sendiri di pekarangan. Mulai menanam sendiri tumbuhan-tumbuhan bumbu di halaman belakang rumah orangtua. Hasil cabe dan tanaman bumbu bisa digunakan sendiri atau dijual ke pedagang pasar. Uangnya ditabung ke bank, dan setelah beberapa bulan buku tabungannya ditunjukkan kepada pembina sebagai syarat naik Laksana. Perilaku yang ditanamkan pada seorang Laksana adalah kemandirian hidup. Berani hidup tanpa tergantung orang lain.
Penegak di jenjang ini diajari Personal Finance, sehingga mampu memiliki rencana investasi. Tahu bahwa jika menabung Rp 100 ribu sebulan mulai usia 16 tahun, maka di usia 40 tahun sudah punya total Rp 1 milyar. Cukup untuk memiliki rumah sendiri dan kendaraan bermotor. Sehingga memiliki posisi yang baik di tengah sistem masyakarat. Tentu saja bukan dengan cara menabung konvensional yang bisa tergerus inflasi. Namun bisa dengan menabung, uangnya diputar membeli emas atau investasi lain seperti Reksadana. Bisa dibayangkan betapa banyaknya materi Personal Finance yang melimpah sudah tersedia untuk jenjang Laksana.

Ide besar dari aktivitas Laksana adalah bagaimana kelak alumni Laksana mampu mengelola keuangan pribadi, dan tidak terjerat utang Kartu Kredit atau kredit konsumsi lainnya. Namun malahan secara personal mampu memiliki tabungan dan menciptakan tambahan income sendiri dari usaha-usaha pribadi.
Jika Gugusdepan Penegak berada di dalam sekolah, maka pengurus Extrakurikuler dapat mengundang pembicara yang berprofesi sebagai Perencana Keuangan untuk menjadi pembicara. Misalnya membahas bagaimana cara menabung yang efektif, apa itu asuransi jiwa, dan lain-lain. Di dalam dunia sekolah, masalah perencanaan keuangan tidak terlalu banyak diajarkan kepada siswa. Sehingga kekosongan ini menjadi titik pemukul Gerakan Pramuka di usia SMA. Kelak akan terbentuk pemikiran bahwa jika ingin belajar soal perencanaan keuangan, ya harus masuk Pramuka.

Untuk naik dan dikukuhkan menjadi Laksana, harus mampu membuktikan kemampuan mencari income lewat usaha mandiri seperti membuka usaha sablon, membuka usaha tambal ban atau menjual bunga anggrek yang ditanam di pekarangan sendiri. Pembukuan sederhana dan foto-foto aktivitas side income ini harus dipresentasikan di hadapan pembina dan teman-teman untuk lulus sebagai Laksana.

Pandega :

Setelah melewati jenjang Bantara dan Laksana, selayaknya konsep Bertahan Hidup dimanapun sudah bisa jadi motto seorang Pramuka. Bertahan di hutan bisa, di masyarakat juga tidak masalah.

Kedua dasar tadi sebetulnya sudah menjadi dasar kokoh untuk menciptakan benih jiwa Wirausahawan yang akan mampu menarik banyak tenaga kerja kelak. Di jenjang Pandegalah, mata hati Pramuka dibuka bahwa menjadi Wirausaha sangat menarik. Sehingga hidup tidak harus mengalir menjadi PNS atau Pegawai Swasta setelah lulus kuliah. Titik tujuan Pandega adalah bukan cuma bertahan hidup seorang hidup di tengah masyakarat, - seperti masa Laksana dulu. Namun sekarang sudah harus mampu menciptakan aktivitas ekonomi buat masyakarat sekitar.

Jadilah wirausaha, dan pimpinlah orang-orang sekitar dalam aktivitas wirausaha. Itu intinya.

Aktivitas di Racana Pandega, yang biasanya berlokasi di Perguruan Tinggi, dapat mengulang dulu materi-materi latihan dari aktivitas Bantara dan Laksana. Lalu menjelang pelantikan Pandega, secara sendiri atau berdua, calon Pandega dapat melakukan Pengembaraan mencari Sumberdaya di masyarakat.

Katakanlah, seorang pembina mengutus dua orang calon Pandeganya berkemah di tepi sungai di kota kecil di Jawa Barat. Tugas mereka berdua adalah membuat peta dan lokasi usaha-usaha kecil dengan tenaga kerja di atas 5 orang. Misalnya usaha peternakan lele, usaha pembuatan tahu tempe, usaha batik tradisional dan usaha pembuatan Dodol Garut. Selama 1 minggu mereka berdua melakukan pengamatan dan wawancara terhadap wirausahawan disana. Selain itu mereka juga memetakan sumberdaya seperti perkebunan kelapa, dan lain-lain yang hasilnya bisa dijual ke kota terdekat.

Ketika mereka kembali dari Perkemahan, maka masing-masing calon Pandega melakukan presentasi hasil pengamatannya. Berapa modal dari satu usaha UKM yang diamati, bagaimana cara pemasarannya, berapa rata-rata keuntungan yang diperoleh. Lalu jika ada sumberdaya lain seperti kelapa, apakah ada saran jika si Pandega nantinya mengelola bisnis kelapa untuk hidupnya ?.

Dari pengembaraan dan presentasi itu, akan terbuka mata hati seorang Pandega bahwa menjadi wirausahawan memiliki profit yang sangat baik. Jiwa bisnisnya akan mulai diasah dengan memperhatikan apa saja yang bisa dijadikan usaha untuk masa depan. Dan alangkah baiknya jika sebuah Racana mendokumentasikan Paper Pengembaraan anggota dalam sebuah blog bersama agar bisa diakses masyakarat luas.

Rangkuman Revitalisasi dari Semua.

Nah, apa yang bisa dirangkum dari tulisan di atas ?

Pramuka Penegak-Pandega harus menegaskan jati dirinya. Mau jadi apa nantinya ? Kalau mengikuti ide di atas, Penegak-Pandega akan dikenal menjadi motor Perencana Keuangan dan gladian Wirausaha yang selama ini kurang digenjot oleh pemerintah. Extrakurikuler Pramuka bisa diaktifkan kembali dengan pameran-pameran di sekolah mengenai Personal Finance dan aktivitas survival alam bebas. Di tingkat Perguruan Tinggi, aktivitas Pramuka akan dikenal sebagai organisasi yang fokus belajar dari UKM-UKM sukses di masyarakat. Mimpi besarnya adalah lahirnya lebih banyak wirausaha dari Gugusdepan Pramuka, sehingga Indonesia yang Makmur lebih lekas tercapai.

Sekian revitalisasi Penegak-Pandega ala saya. Sebelumnya terima kasih kepada Racana Kalpavriksha, Gugusdepan terakhir yang mendidik saya, dimana diijinkan banyak perbedaan pendapat dan pengolahan pemikiran yang boleh diujicobakan disana.

Selamat Hari Pramuka, Salam Setia.



Ajari Anak Kita Bertahan Hidup

Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/ajari-anak-kita-bertahan-hidup_552b986c6ea834bf228b45de



Ada hal yang sangat membekas di benak saya ketika masih kuliah di Depok dahulu. Seorang kakak kelas tampak murung ketika saya bertemu dengannya di sebuah perkuliahan hari Sabtu. Waktu itu, saya hanya menegur sedikit dan bicara basa-basi saja sambil lewat, dan tidak memiliki pikiran apapun berkaitan dengan kesedihan di raut mukanya. Hari Seninnya, saya mendengar bahwa kakak kelas ini sudah meninggal karena bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api Jabotabek yang melaju kencang di dekat stasiun kereta Tanjung Barat. 

Saya sungguh shock mendengarnya. Andaikata di hari Sabtu itu saya tahu bahwa teman saya ini akan memilih jalan mengakhiri hidupnya, maka saya akan berjuang memberi motivasi supaya dia membatalkan niatnya. Masalah teman saya ini adalah dia gagal menyelesaikan studinya. Drop Out sudah di depan mata, dan ayahnya yang tidak bisa menerima berita kegagalan ini pasti akan memburu dia dengan belati di tangannya seperti kejadian beberapa tahun sebelumnya. Tragis.

Di depan adik-adik Pramuka dulu, saya mengajarkan prinsip untuk tegar dan bertahan hidup dalam keadaan apapun. Seruwet dan seberat apapun tekanan hidup, jangan sampai bunuh diri !. Sambil berjalan dan berkemah bersama adik-adik Pramuka ini, saya memasukkan pesan dalam-dalam agar kita Bertahan untuk Hidup. Survival !. Bagaimanapun caranya. Tidak boleh bunuh diri, sebab hidup kita ini milik Tuhan sendiri. Bukan kita yang empunya kehidupan. "Lihat itu monyet di hutan. Mereka bisa bertahan hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Tidak pernah ada hewan yang bunuh diri. Hewan bisa survival !, apalagi kita yang manusia. Jika kesulitan tidak tertahankan dan semua orang sudah menolakmu, adik-adik bisa pergi dan hidup di hutan. Tetaplah bertahan hidup, dan pantang untuk membunuh diri. Serahkan kembali bendera kehidupan kita kepada Tuhan yang menciptakan hidup kita". Itu pesan yang saya ulang-ulangi agar merasuk ke dalam jiwa adik-adik Pramuka. Bukan menyuruh mereka meninggalkan kota dan hidup di hutan. Tapi mengajarkan lebih baik di hutan daripada harus bunuh diri. 

Bagaimana mengajari anak-anak kita bertahan hidup ?. Ini beberapa di antaranya. Prinsip paling dasar : Mereka boleh pulang ke rumah dalam keadaan segagal apapun. Teman saya di atas membunuh diri karena dia tidak tahu harus pergi kemana lagi. Kuliah sudah gagal dan dia tahu orangtuanya sudah habis-habisan menghabiskan tanah dan harta untuk mengirim dia sekolah ke Jakarta. Kalau dia pulang ke kampung halamannya, pastilah ayahnya mengejar dia dengan belati seperti dulu ketika dia gagal dalam beberapa kuliah. Apalagi sekarang, ketika dia sudah menerima vonis Drop Out. 

Ajari anak-cucu kita, adik-adik Pramuka kita, teman-teman kita, bahwa mereka boleh pulang ke tempat kita dalam keadaan segagal apapun. Manusia bisa gagal dan memang boleh gagal. Sebab manusia bukan coding komputer yang harus bebas dari bugs [maaf lho, saya programmer, jadi boleh kan pakai analogi komputer]. Tapi sebaliknya, manusia dicipta lewat proses belajar dari kesalahan. Kesalahan dan kegagalan hanyalah satu loop perulangan dalam hidup. Kalau gagal, berarti salah masuk loop. Coba ulangi satu putaran lagi. Begitu seterusnya. Dan jika masih gagal, engkau boleh pulang ke rumah. Sebab kami sangat mencintai dan mengasihimu. Anak-anak yang diajar dengan prinsip dasar ini, akan mengalami kelegaan dalam melewati masalah hidup apapun. Sebab mereka yakin tetap akan diterima dalam kondisi apa saja. 

Prinsip kedua : Tidak boleh bunuh diri, Tetaplah bertahan hidup. Kenapa kita melihat banyak kasus bunuh diri di kalangan remaja ? Baru putus cinta sedikit, langsung mencari tambang. Baru gagal masuk sekolah, sudah membeli baygon satu kaleng. Saya tidak paham dari sisi psikologi. Namun saya mencegah kejadian ini dengan menanamkan prinsip ini dalam-dalam kepada remaja. Tidak boleh bunuh diri !, bertahanlah hidup dalam keadaan apapun. Di Pramuka saya mengajarkan mereka hidup dan survival supaya paham bahwa mereka tetap bisa bertahan dalam kondisi seminim apapun. Tentunya saya memasukkan prinsip ini lewat permainan, game dan pelatihan ketrampilan alam bebas. 

Kalau anda jadi seorang pembina, tidak cukup hanya menguji ketrampilan bagaimana menambal ban sepeda. Katakan kepada adik-adik ini bahwa kelak jika hidup sudah menghimpit dan tidak tahu harus kemana, mereka bisa membuka usaha tambal ban untuk hidup. Berikan keyakinan ini kepada mereka. Ajari terus anak-anak kita. Ajari teman-teman kita, dan semua orang di sekitar kita. Bahwa mereka harus memperlakukan kehidupan ini dengan hormat. Ajak bicara anak-anak kita, sehingga problem apapun bisa mereka sampaikan kepada kita dengan rileks. Terakhir. Tetaplah bertahan hidup, teman-teman. Bawa kembali bendera kehidupan kita untuk diserahkan kepada Tuhan sendiri nanti, Sang Empunya kehidupan. 

Selamat Bertahan Hidup.

Kerja Bakti di Era Google

Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/kerja-bakti-di-era-google_55209c67a33311814646d054


Tema kerja bakti saat ini, penyemprotan nyamuk

Sepotong email meluncur masuk ke inbox. Ternyata dari pak RT 01 di Perumahan Bukit Golf Cibubur, Cluster Arcadia Blok A. Isinya adalah undangan bagi warga untuk kerja bakti hari Sabtu besok. Cara yang sangat praktis untuk mengundang kami warga pinggiran kota Jakarta yang sudah kabur sejak pukul 05.00 pagi dan baru masuk rumah kembali di atas pukul 20.00 malam.

Perumahan kami terletak di tepi Tol Jagorawi, berbatasan antara Cibubur, Depok dan Gunung Putri Bogor. Jauhnya rumah dan tempat kerja menyebabkan waktu berkumpul sesama warga sangat kurang. Disinilah teknologi dimanfaatkan. Untuk urusan diskusi dan undangan kumpul-kumpul, kami gunakan milis Google Group. Alamatnya adalah arcadia1@googlegroups.com. Untuk pembahasan urusan RT, tidak perlu secara fisik bertemu. Cukup chatting saja. Maka warga yang kebetulan sedang tugas di Eropa atau kebetulan masih umroh, tetap bisa memberikan saran dan masukan.

Praktis kan ?

Setelah kerja bakti, waktunya berkumpul dan makan cemilan

Pak Mucharom, pak RT kami yang energik dan baik hati, punya prinsip begini. Kerja bakti, buat para bapak-bapak sesungguhnya adalah seperti arisan bagi ibu-ibu. Lha iya. Sesungguhnya kalau untuk membersihkan area atau melakukan penyemprotan nyamuk, kami bisa saja mengumpulkan iuran dan mengutus orang lain untuk mengerjakannya. Tapi kalau semuanya dilakukan oleh orang lain, kapan ada waktu buat bapak-bapak berkumpul ?. Pertemuan yang sekali-kali ini, diimbangi dengan komunikasi dan diskusi di milis Googlegroups. Suatu ketika, seekor ular kecil sedang santai melintasi jalan menuju ke taman di komplek perumahan. Sontak, ular kecil yang sedang travelling ini diamankan oleh satpam perumahan. Dan laporan ular yang ditangkap ini disiarkan ke milis RT 01. Maka semua warga, baik yang di rumah - di tempat kerja - dan bahkan yang sedang di tanah Arab Saudi menerima beritanya secara instans. Memang beda berkomunikasi antar warga di Era Google seperti ini. 

Tempat sampah di RT kami harus seperti di gambar ini




Maka, tidak ada alasan lagi untuk tidak bersosialisasi antara warga. Di jaman dahulu kita bisa berkumpul gelar tikar sambil minum teh. Namun di Era maju seperti sekarang, dimana waktu sangat ketat dan terbatas, Google bisa menggantikan sarana ini. Terima kasih teknologi.













Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah

Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/kaget-pelayanan-kelurahan-dki-sudah-berubah_55200b888133113d719de341



Terakhir kali saya mengurus administrasi di kantor kelurahan, kira-kira sudah lewat satu tahun lalu. Waktu itu ada panggilan untuk mengambil e-KTP. Rasanya malas sekali meninggalkan pekerjaan untuk berdesak-desakan, dan berpanas-panasan di kantor kelurahan. Banyak waktu terbuang sia-sia untuk menunggu dokumen yang sedang dikerjakan oleh staff kelurahan di wilayah Jakarta Timur ini. Kalau tidak terpaksa sekali sih, saya memilih untuk tidak pernah datang ke tempat yang namanya kantor kelurahan.

Tapi siang ini saya harus kembali ke kantor kelurahan Cililitan dengan terpaksa. Masalahnya, anak saya yang bersekolah di SMP Depok akan melanjutkan ke SMA Negeri Depok. Dan ada kebutuhan melegalisir Kartu Keluarga untuk pendaftaran di sekolah nanti. Ya sudah, tekad sudah dibulatkan untuk mengantri lagi berdesakan dan berpanas-panasan di kantor kelurahan. Namanya juga sayang anak.

Saya memarkir mobil di parkiran kantor kelurahan Cililitan yang relatif sepi. Pintu tertutup semua, hanya ada satu orang sedang duduk di luar di bangku teras. Pikiran saya yang negatif sudah langsung menghakimi, "Ini pasti staff kelurahan sudah kabur makan siang semua, urusan bakalan jadi lama deh". Orang yang duduk di luar tadi tadi, mempersilakan saya masuk ke pintu itu. Maka saya buka pintu dan masuk ke dalam.

Begitu masuk, saya langsung terpana. Di dalamnya suasana dingin ber-AC. Saya sempat bingung. Ini kantor kelurahan, atau Bank Swasta sih ?. Ada 4 petugas kelurahan berbaju resmi duduk di belakang meja seperti meja Customer Service bank, semuanya wanita. Yang paling ujung kiri, bekerja dengan laptop. Ada seorang staff kelurahan yang tersenyum pada saya, dan kursi di depannya kosong. Langsung saya duduk disitu.

Saya sungguh masih bingung. Mana loket tempat mengurus surat-surat seperti biasa ?. Mana tukang ketik yang biasa sibuk ketak-ketik seperti kelurahan pada umumnya ?. Ada sekitar 4 orang tamu duduk di ruang tunggu, tapi tidak mirip orang mengantri. Ibu yang tersenyum tadi langsung melayani saya. Foto Copy Kartu Keluarga saya langsung dicap dan ditulis-tulis, dan dimasukkan buku registrasi. Kami mengobrol ngalor-ngidul, dia bertanya kenapa anak saya tidak sekolah di DKI Jakarta saja, kan bagus ? Lalu anak saya apakah tinggal dengan nenek-nya di Depok ?, dan sebagainya. Prosesnya cuma 3 menit. Yang luarbiasa, tiba-tiba ada seseorang yang mungkin Lurah Cililitan duduk di samping saya dan menandatangani fotocopy Kartu Keluarga saya. Beres. Total waktu cuma 4 menit. Semua lembar tadi diserahkan kepada saya yang masih kaget.

Lho, ini beneran sudah selesai ?. Dari rumah tadi saya sudah siapkan waktu sekitar 3 jam untuk mengurus legalisir Kartu Keluarga ini, tapi sekarang cuma dilayani 4 menit saja di tempat yang dingin dan mirip kantor Bank Swasta ini. Lalu saya salaman dengan ibu tadi sambil memberi salam tempel 2 lembaran rupiah. Saya memberi uang ini bukan untuk menyogok, sebab pekerjaan sudah selesai. Tapi lebih kepada kepuasan dan terima kasih. Ibu itu mengatakan, "Wah bapak saya beri kupon ya pak. Sebab bapak sudah memberikan uang kepada saya". Saya heran, kupon apaan ?. Dia menyobek 2 lembar kupon. Ternyata itu adalah kupon amal untuk sebuah panti asuhan. Ternyata uang saya akan dihibahkan lagi untuk anak-anak yatim yang tertulis di kupon itu.

Saya jadi tambah kagum lagi dengan kantor kelurahan ini. Hati yang tadinya kesal karena berpikir akan antri lama di kantor kelurahan, sudah diubah menjadi kepuasan yang tak terhingga atas pelayanan kantor kelurahan Cililitan ini yang tidak lebih dari 5 menit. Sepanjang perjalanan pulang, di dalam diri saya tumbuh yang namanya sebuah harapan. Tadinya saya sudah apatis melihat negara dan bangsa Indonesia. Tidak mungkin mental bobrok pejabat dari atas sampai bawah bisa diubah. Namun sejak gubernur yang baru memimpin Jakarta, perlahan-lahan Jakarta berubah melayani warganya. Hati saya rasanya puas dan gembira sekali. Harapan baru tumbuh untuk Jakarta yang baru, dan juga nanti menyongsong Indonesia baru.

Lewat blog Kompasiana ini saya menitipkan terima kasih untuk pak Jokowi, pak Ahok dan juga pak Lurah Cililitan beserta staf-stafnya. Saya yakin di kelurahan lain di DKI Jakarta juga sudah berubah baik seperti Kelurahan Cililitan. Berubah untuk melayani warga Jakarta. Sekarang, datang ke kantor Kelurahan sama mengasyikkan  seperti datang ke kantor cabang bank Swasta. Selamat datang Jakarta baru.

--- Update : Wartawan Kompas memeriksa langsung Kelurahan Cililitan ini pada Rabu 26 Juni 2013. Baca reportasenya disini .

Benarkah 'Jokowi Effect' Gagal pada 2 kali Pilkada?

Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/benarkah-jokowi-effect-gagal-pada-2-kali-pilkada_5529c2bf6ea8349504552d1f


Sejujurnya saya bukan orang Politik, dan belum pernah ngeblog hal-hal yang berbau politik. Tapi pagi ini saya geregetan melihat posting gambar yang berseliweran di Twitland dan Forum-forum berita mengenai kegagalan "Jokowi Effect" pada Pilkada Jawa Barat dan Pilkada Sumatra Utara.

Gambarnya melukiskan ibu Megawati dan pak Jokowi saling curhat seperti ini.







Benarkah "Jokowi Effect" sudah tidak ampuh lagi ?. Dan apakah perjalanan Megawati dan Jokowi ke daerah-daerah adalah sebuah kesia-siaan bagi PDIP ?.

Saya melihatnya tidak demikian. Memang kehadiran pak Jokowi ke daerah-daerah yang tengah bertarung dalam Pilkada tidak serta-merta menjadikan cagub yang didukung PDIP akan menang mutlak. Rieke Dyah kalah di Pilkada Jawa Barat, dan Effendi Simbolon tidak berhasil dalam quick count di Pilkada Sumatra Utara.

Tapi tunggu, ada hitung-hitungan lain yang jelas menguntungkan PDIP dan pak Jokowi dari 'blusukan' di area nasional ini. Menjelang Pilkada Jawa Barat, LSI Network mengadakan survey pada 5 Februari 2013 (sepekan menjelang pencoblosan). Dan hasilnya Rieke-Teten hanya memperoleh posisi ketiga dengan angka 8,9 persen. Tetapi setelah pak Jokowi ikut 'blusukan' mendukung kampanye Rieke-Teten, hasil quick count menghasilkan kenaikan signifikan, yaitu 27,50 persen menurut LSI, atau di posisi kedua. Jauh sekali beda perolehannya !.

Apakah tidak terlihat efek dukungan Jokowi pada kampanye Rieke-Teten ? Yang dimana seharusnya pasangan ini menempati posisi hampir buncit, didongkrak menjadi runner-up. Demikian juga pada Pilkada Sumatra Utara, dimana menurut survey pasangan Effendi Simbolon-Djumiran Abdi selalu diposisikan pada akhir. Namun hasil quick count akhirnya, pasangan ini naik di posisi runner-up. Ada tambahan suara yang saya lihat dipengaruhi oleh kehadiran pak Jokowi pada detik-detik akhir kampanye Effendi Simbolon.

'Jokowi Effect' sama sekali tidak gagal. Malahan menurut saya berhasil dengan memuaskan. Sungguhpun calon gubernur yang didukung PDIP tidak berhasil menang di 2 area pertempuran Pilkada, namun Megawati pasti melihat Jokowi memiliki kharisma untuk mendongkrak perolehan suara. Dan ini akan dijadikan senjata ampuh pada Pemilu 2014 besok. Pasti Jokowi akan digandeng terus-menerus berkeliling pada lingkup nasional untuk menaikkan rating PDIP. Buat pak Jokowi sendiri hal ini bukannya merugikan, malahan mungkin bisa saling simbiosis-mutualisme. Kehadiran pak Jokowi di semua area tempur Pilkada, bisa dijadikan semacam 'test of the water' tentang popularitas dirinya di masyarakat nasional. Ini penting kalau pak Jokowi bersiap-siap dicapreskan di tahun 2019.

Bayangkan !, persiapan capres 2019 tapi dimulai sejak 2013. Karena itu saya tidak heran jika cagub PDIP di Pilkada Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan pak Jokowi sudah menelpon mengatakan siap membantu di Pilkada Jawa Tengah. Kita lihat saja 'Jokowi Effect' di Jawa Tengah besok, apa pengaruhnya buat PDIP nanti.


Wednesday, February 24, 2016

Bila Negara Memisahkan Diri dari Jaringan Internet Dunia.

Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/bila-negara-memisahkan-diri-dari-jaringan-internet-dunia_5517f855a333119306b663ae



Berita terakhir pada 24 September 2012 kemarin, negara Iran memilih untuk  memisahkan diri dari jaringan internet dunia. Dan sebagai gantinya, nanti pemerintah Iran hanya akan menyediakan jaringan internet pribadi yang bisa diakses oleh warga dan pemerintah lokal.

Ternyata tidak cukup dengan memblokir media social semacam Twitter dan Facebook, pemerintah Iran ingin memindahkan seluruh akses internasional mereka menjadi domestik. Ditambah lagi adanya kejadian serangan virus Stuxnet yang menghebohkan pada tahun 2010 lalu, dimana Iran mencurigai serangan cyber Stuxnet dirancang oleh intelijen Amerika dan Israel untuk melumpuhkan fasilitas Nuklir Iran. Maka semakin mantaplah niat Iran mengucapkan selamat tinggal kepada jaringan internet dunia demi menjaga rahasia negara mereka.

Apa sesungguhnya keuntungan dan kerugian dari pemisahan jaringan ini bagi pemerintah Iran ? Keuntungannya jelas adalah sekuriti. Iran tidak akan direcoki lagi masalah virus, kebocoran rahasia negara, provokasi politik melalui Twitter, dan bahkan lebih aman di dalam negeri jika ada masalah sensitif seperti film Innocence of Muslim yang kemarin melanda dunia Islam. Tapi apakah keuntungan negara ini sepadan dengan kerugian yang didapatkan ? Tanpa adanya akses internet ke luarnegeri, maka dunia Pendidikan akan sangat terpukul. Siswa Iran dan Mahasiswa akan bagai katak di bawah tempurung. Daya saing sumberdaya manusia akan berada di bawah rata-rata bangsa lain. Industri perdagangan juga akan terkena impact, eksport import akan mengalami kesulitan. Pariwisata dunia saat ini juga memerlukan akses internet untuk memanjakan turis dari luarnegeri. Apakah bisa dibayangkan di masa ini ada lokasi dimana turis tidak bisa menerima dan mengirim email melalui gadget mereka ?

Melihat pilihan yang diambil oleh pemerintah Iran ini, penulis sangat bersyukur tinggal di Indonesia. Masalah pornografi dunia online yang mempengaruhi generasi muda Indonesia, game-game di warnet yang tidak mendidik dan lain sebagainya, tidak ditindaklanjuti dengan memisahkan diri dari jaringan internet dunia. Penulis setuju pornografi difilter oleh ISP-ISP atau Network Access Provider di atasnya. Tapi akses ke dunia pengetahuan, forum dan sebagainya diberikan kebebasan untuk mengaksesnya. Untuk kasus Iran, jika penulis boleh memberikan pendapat, sebaiknya tidak perlu keluar dari internet dunia. Berikan saja akses internet dunia kepada warga negara, namun traffik keluar-masuk sebaiknya dikontrol oleh satu lembaga khusus yang dibentuk pemerintah Iran. Memisahkan diri dari jaringan internet dunia di masa depan tidak akan memecahkan masalah. Justru akan menimbulkan keterbelakangan dan kemunduran bagi bangsa yang mengambil pilihan tersebut.

Baru tahu Cap Cay bukan makanan dari negeri China.


Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/baru-tahu-cap-cay-bukan-makanan-dari-negeri-china_5517929381331127699de1fc



Tahun 1999 perusahaan mengutus saya untuk pergi sendiri menghadiri sebuah seminar teknologi di kota Paris. Sesampai disana, hanya ada 3 orang pria yang berasal dari Asia. Saya sendiri, satu orang dari China dan satu lagi dari Taiwan. 

Karena merasa berasal dari negeri Timur yang jauh, maka kami sering duduk berdekatan sambil mengobrol. Mereka berdua yang kebetulan berbahasa sama, dengan leluasa berbicara akrab. Saya hanya kadang-kadang menyela dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Suatu siang, ada jam istirahat kosong yang dapat dimanfaatkan untuk jalan-jalan. 

Karena kami bertiga adalah orang udik di negeri barat itu, banyak masalah yang kami temui - seperti masalah makanan. Bingung. Mau makan di mana ya ? Restoran apa yang cocok dengan perut kami bertiga ?. 

Satu hari saya mengusulkan mencari Restoran China di Paris dan memesan makanan bernama Cap Cay. Siapa yang tidak tahu makanan Cap Cay ? Begitu pikir saya. Itu kan makanan China yang terkenal di Indonesia. Maka saya usulkan makan Cap Cay di Restoran China terdekat. 

Kedua orang itu melongo. Apa itu Cap Cay ?, demikian tanya mereka. Lha, saya jadi heran. Gimana nih orang ? Masak Cap Cay saja tidak tahu ?. Bukannya itu harusnya makanan kebangsaan mereka di China dan Taiwan ?. Saya ingat, istilah Cap Cay itu kalau tidak salah berarti makanan yang berasal dari 9 sayuran.  Maka saya jelaskan bagaimana Cap Cay dan cara pembuatannya yang saya kenal di Indonesia. Barangkali di China atau Taiwan namanya agak beda. 

Eh, ternyata setelah dijelaskan setengah jam keduanya tetap menggelengkan kepala. Astaga, akhirnya saya menyerah dan kami mencari makanan yang lain saja. Barulah setelah tiba di Indonesia, saya diberi pengertian oleh teman-teman Chinesse bahwa Cap Cay bukan diciptakan dari negeri China sana. Bisa jadi makanan ini istilahnya berbahasa China, tapi diciptakan oleh saudara-saudara Chinesse di Indonesia sendiri. Oooh,...begitu ceritanya. Hihihi. Pantesan teman-teman saya itu melongo mendengar Cap Cay. Ternyata itu bukan makanan negeri China. 

Jadi malu. Sudah ngotot, ternyata saya yang salah.
Tahun 1999 perusahaan mengutus saya untuk pergi sendiri menghadiri sebuah seminar teknologi di kota Paris. Sesampai disana, hanya ada 3 orang pria yang berasal dari Asia. Saya sendiri, satu orang dari China dan satu lagi dari Taiwan. Karena merasa berasal dari negeri Timur yang jauh, maka kami sering duduk berdekatan sambil mengobrol. Mereka berdua yang kebetulan berbahasa sama, dengan leluasa berbicara akrab. Saya hanya kadang-kadang menyela dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Suatu siang, ada jam istirahat kosong yang dapat dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Karena kami bertiga adalah orang udik di negeri barat itu, banyak masalah yang kami temui - seperti masalah makanan. Bingung. Mau makan di mana ya ? Restoran apa yang cocok dengan perut kami bertiga ?. Satu hari saya mengusulkan mencari Restoran China di Paris dan memesan makanan bernama Cap Cay. Siapa yang tidak tahu makanan Cap Cay ? Begitu pikir saya. Itu kan makanan China yang terkenal di Indonesia. Maka saya usulkan makan Cap Cay di Restoran China terdekat. Kedua orang itu melongo. Apa itu Cap Cay ?, demikian tanya mereka. Lha, saya jadi heran. Gimana nih orang ? Masak Cap Cay saja tidak tahu ?. Bukannya itu harusnya makanan kebangsaan mereka di China dan Taiwan ?. Saya ingat, istilah Cap Cay itu kalau tidak salah berarti makanan yang berasal dari 9 sayuran. Maka saya jelaskan bagaimana Cap Cay dan cara pembuatannya yang saya kenal di Indonesia. Barangkali di China atau Taiwan namanya agak beda. Eh, ternyata setelah dijelaskan setengah jam keduanya tetap menggelengkan kepala. Astaga, akhirnya saya menyerah dan kami mencari makanan yang lain saja. Barulah setelah tiba di Indonesia, saya diberi pengertian oleh teman-teman Chinesse bahwa Cap Cay bukan diciptakan dari negeri China sana. Bisa jadi makanan ini istilahnya berbahasa China, tapi diciptakan oleh saudara-saudara Chinesse di Indonesia sendiri. Oooh,...begitu ceritanya. Hihihi. Pantesan teman-teman saya itu melongo mendengar Cap Cay. Ternyata itu bukan makanan negeri China. Jadi malu. Sudah ngotot, ternyata saya yang salah. Dwi M /dwim TERVERIFIKASI Programmer, Currency Trader, Blogger Selengkapnya... IKUTI Share 0 0 0 KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, S

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dwim/baru-tahu-cap-cay-bukan-makanan-dari-negeri-china_5517929381331127699de1fc
Tahun 1999 perusahaan mengutus saya untuk pergi sendiri menghadiri sebuah seminar teknologi di kota Paris. Sesampai disana, hanya ada 3 orang pria yang berasal dari Asia. Saya sendiri, satu orang dari China dan satu lagi dari Taiwan. Karena merasa berasal dari negeri Timur yang jauh, maka kami sering duduk berdekatan sambil mengobrol. Mereka berdua yang kebetulan berbahasa sama, dengan leluasa berbicara akrab. Saya hanya kadang-kadang menyela dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Suatu siang, ada jam istirahat kosong yang dapat dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Karena kami bertiga adalah orang udik di negeri barat itu, banyak masalah yang kami temui - seperti masalah makanan. Bingung. Mau makan di mana ya ? Restoran apa yang cocok dengan perut kami bertiga ?. Satu hari saya mengusulkan mencari Restoran China di Paris dan memesan makanan bernama Cap Cay. Siapa yang tidak tahu makanan Cap Cay ? Begitu pikir saya. Itu kan makanan China yang terkenal di Indonesia. Maka saya usulkan makan Cap Cay di Restoran China terdekat. Kedua orang itu melongo. Apa itu Cap Cay ?, demikian tanya mereka. Lha, saya jadi heran. Gimana nih orang ? Masak Cap Cay saja tidak tahu ?. Bukannya itu harusnya makanan kebangsaan mereka di China dan Taiwan ?. Saya ingat, istilah Cap Cay itu kalau tidak salah berarti makanan yang berasal dari 9 sayuran. Maka saya jelaskan bagaimana Cap Cay dan cara pembuatannya yang saya kenal di Indonesia. Barangkali di China atau Taiwan namanya agak beda. Eh, ternyata setelah dijelaskan setengah jam keduanya tetap menggelengkan kepala. Astaga, akhirnya saya menyerah dan kami mencari makanan yang lain saja. Barulah setelah tiba di Indonesia, saya diberi pengertian oleh teman-teman Chinesse bahwa Cap Cay bukan diciptakan dari negeri China sana. Bisa jadi makanan ini istilahnya berbahasa China, tapi diciptakan oleh saudara-saudara Chinesse di Indonesia sendiri. Oooh,...begitu ceritanya. Hihihi. Pantesan teman-teman saya itu melongo mendengar Cap Cay. Ternyata itu bukan makanan negeri China. Jadi malu. Sudah ngotot, ternyata saya yang salah. Dwi M /dwim TERVERIFIKASI Programmer, Currency Trader, Blogger Selengkapnya... IKUTI Share 0 0 0 KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, S

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dwim/baru-tahu-cap-cay-bukan-makanan-dari-negeri-china_5517929381331127699de1fc
Tahun 1999 perusahaan mengutus saya untuk pergi sendiri menghadiri sebuah seminar teknologi di kota Paris. Sesampai disana, hanya ada 3 orang pria yang berasal dari Asia. Saya sendiri, satu orang dari China dan satu lagi dari Taiwan. Karena merasa berasal dari negeri Timur yang jauh, maka kami sering duduk berdekatan sambil mengobrol. Mereka berdua yang kebetulan berbahasa sama, dengan leluasa berbicara akrab. Saya hanya kadang-kadang menyela dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Suatu siang, ada jam istirahat kosong yang dapat dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Karena kami bertiga adalah orang udik di negeri barat itu, banyak masalah yang kami temui - seperti masalah makanan. Bingung. Mau makan di mana ya ? Restoran apa yang cocok dengan perut kami bertiga ?. Satu hari saya mengusulkan mencari Restoran China di Paris dan memesan makanan bernama Cap Cay. Siapa yang tidak tahu makanan Cap Cay ? Begitu pikir saya. Itu kan makanan China yang terkenal di Indonesia. Maka saya usulkan makan Cap Cay di Restoran China terdekat. Kedua orang itu melongo. Apa itu Cap Cay ?, demikian tanya mereka. Lha, saya jadi heran. Gimana nih orang ? Masak Cap Cay saja tidak tahu ?. Bukannya itu harusnya makanan kebangsaan mereka di China dan Taiwan ?. Saya ingat, istilah Cap Cay itu kalau tidak salah berarti makanan yang berasal dari 9 sayuran. Maka saya jelaskan bagaimana Cap Cay dan cara pembuatannya yang saya kenal di Indonesia. Barangkali di China atau Taiwan namanya agak beda. Eh, ternyata setelah dijelaskan setengah jam keduanya tetap menggelengkan kepala. Astaga, akhirnya saya menyerah dan kami mencari makanan yang lain saja. Barulah setelah tiba di Indonesia, saya diberi pengertian oleh teman-teman Chinesse bahwa Cap Cay bukan diciptakan dari negeri China sana. Bisa jadi makanan ini istilahnya berbahasa China, tapi diciptakan oleh saudara-saudara Chinesse di Indonesia sendiri. Oooh,...begitu ceritanya. Hihihi. Pantesan teman-teman saya itu melongo mendengar Cap Cay. Ternyata itu bukan makanan negeri China. Jadi malu. Sudah ngotot, ternyata saya yang salah. Dwi M /dwim TERVERIFIKASI Programmer, Currency Trader, Blogger Selengkapnya... IKUTI Share 0 0 0 KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, S

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dwim/baru-tahu-cap-cay-bukan-makanan-dari-negeri-china_5517929381331127699de1fc
Tahun 1999 perusahaan mengutus saya untuk pergi sendiri menghadiri sebuah seminar teknologi di kota Paris. Sesampai disana, hanya ada 3 orang pria yang berasal dari Asia. Saya sendiri, satu orang dari China dan satu lagi dari Taiwan. Karena merasa berasal dari negeri Timur yang jauh, maka kami sering duduk berdekatan sambil mengobrol. Mereka berdua yang kebetulan berbahasa sama, dengan leluasa berbicara akrab. Saya hanya kadang-kadang menyela dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Suatu siang, ada jam istirahat kosong yang dapat dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Karena kami bertiga adalah orang udik di negeri barat itu, banyak masalah yang kami temui - seperti masalah makanan. Bingung. Mau makan di mana ya ? Restoran apa yang cocok dengan perut kami bertiga ?. Satu hari saya mengusulkan mencari Restoran China di Paris dan memesan makanan bernama Cap Cay. Siapa yang tidak tahu makanan Cap Cay ? Begitu pikir saya. Itu kan makanan China yang terkenal di Indonesia. Maka saya usulkan makan Cap Cay di Restoran China terdekat. Kedua orang itu melongo. Apa itu Cap Cay ?, demikian tanya mereka. Lha, saya jadi heran. Gimana nih orang ? Masak Cap Cay saja tidak tahu ?. Bukannya itu harusnya makanan kebangsaan mereka di China dan Taiwan ?. Saya ingat, istilah Cap Cay itu kalau tidak salah berarti makanan yang berasal dari 9 sayuran. Maka saya jelaskan bagaimana Cap Cay dan cara pembuatannya yang saya kenal di Indonesia. Barangkali di China atau Taiwan namanya agak beda. Eh, ternyata setelah dijelaskan setengah jam keduanya tetap menggelengkan kepala. Astaga, akhirnya saya menyerah dan kami mencari makanan yang lain saja. Barulah setelah tiba di Indonesia, saya diberi pengertian oleh teman-teman Chinesse bahwa Cap Cay bukan diciptakan dari negeri China sana. Bisa jadi makanan ini istilahnya berbahasa China, tapi diciptakan oleh saudara-saudara Chinesse di Indonesia sendiri. Oooh,...begitu ceritanya. Hihihi. Pantesan teman-teman saya itu melongo mendengar Cap Cay. Ternyata itu bukan makanan negeri China. Jadi malu. Sudah ngotot, ternyata saya yang salah. Dwi M /dwim TERVERIFIKASI Programmer, Currency Trader, Blogger Selengkapnya... IKUTI Share 0 0 0 KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, S

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dwim/baru-tahu-cap-cay-bukan-makanan-dari-negeri-china_5517929381331127699de1fc
Tahun 1999 perusahaan mengutus saya untuk pergi sendiri menghadiri sebuah seminar teknologi di kota Paris. Sesampai disana, hanya ada 3 orang pria yang berasal dari Asia. Saya sendiri, satu orang dari China dan satu lagi dari Taiwan. Karena merasa berasal dari negeri Timur yang jauh, maka kami sering duduk berdekatan sambil mengobrol. Mereka berdua yang kebetulan berbahasa sama, dengan leluasa berbicara akrab. Saya hanya kadang-kadang menyela dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Suatu siang, ada jam istirahat kosong yang dapat dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Karena kami bertiga adalah orang udik di negeri barat itu, banyak masalah yang kami temui - seperti masalah makanan. Bingung. Mau makan di mana ya ? Restoran apa yang cocok dengan perut kami bertiga ?. Satu hari saya mengusulkan mencari Restoran China di Paris dan memesan makanan bernama Cap Cay. Siapa yang tidak tahu makanan Cap Cay ? Begitu pikir saya. Itu kan makanan China yang terkenal di Indonesia. Maka saya usulkan makan Cap Cay di Restoran China terdekat. Kedua orang itu melongo. Apa itu Cap Cay ?, demikian tanya mereka. Lha, saya jadi heran. Gimana nih orang ? Masak Cap Cay saja tidak tahu ?. Bukannya itu harusnya makanan kebangsaan mereka di China dan Taiwan ?. Saya ingat, istilah Cap Cay itu kalau tidak salah berarti makanan yang berasal dari 9 sayuran. Maka saya jelaskan bagaimana Cap Cay dan cara pembuatannya yang saya kenal di Indonesia. Barangkali di China atau Taiwan namanya agak beda. Eh, ternyata setelah dijelaskan setengah jam keduanya tetap menggelengkan kepala. Astaga, akhirnya saya menyerah dan kami mencari makanan yang lain saja. Barulah setelah tiba di Indonesia, saya diberi pengertian oleh teman-teman Chinesse bahwa Cap Cay bukan diciptakan dari negeri China sana. Bisa jadi makanan ini istilahnya berbahasa China, tapi diciptakan oleh saudara-saudara Chinesse di Indonesia sendiri. Oooh,...begitu ceritanya. Hihihi. Pantesan teman-teman saya itu melongo mendengar Cap Cay. Ternyata itu bukan makanan negeri China. Jadi malu. Sudah ngotot, ternyata saya yang salah. Dwi M /dwim TERVERIFIKASI Programmer, Currency Trader, Blogger Selengkapnya... IKUTI Share 0 0 0

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dwim/baru-tahu-cap-cay-bukan-makanan-dari-negeri-china_5517929381331127699de1fc