Thursday, February 25, 2016

Ajari Anak Kita Bertahan Hidup

Publikasi di :
http://www.kompasiana.com/dwim/ajari-anak-kita-bertahan-hidup_552b986c6ea834bf228b45de



Ada hal yang sangat membekas di benak saya ketika masih kuliah di Depok dahulu. Seorang kakak kelas tampak murung ketika saya bertemu dengannya di sebuah perkuliahan hari Sabtu. Waktu itu, saya hanya menegur sedikit dan bicara basa-basi saja sambil lewat, dan tidak memiliki pikiran apapun berkaitan dengan kesedihan di raut mukanya. Hari Seninnya, saya mendengar bahwa kakak kelas ini sudah meninggal karena bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api Jabotabek yang melaju kencang di dekat stasiun kereta Tanjung Barat. 

Saya sungguh shock mendengarnya. Andaikata di hari Sabtu itu saya tahu bahwa teman saya ini akan memilih jalan mengakhiri hidupnya, maka saya akan berjuang memberi motivasi supaya dia membatalkan niatnya. Masalah teman saya ini adalah dia gagal menyelesaikan studinya. Drop Out sudah di depan mata, dan ayahnya yang tidak bisa menerima berita kegagalan ini pasti akan memburu dia dengan belati di tangannya seperti kejadian beberapa tahun sebelumnya. Tragis.

Di depan adik-adik Pramuka dulu, saya mengajarkan prinsip untuk tegar dan bertahan hidup dalam keadaan apapun. Seruwet dan seberat apapun tekanan hidup, jangan sampai bunuh diri !. Sambil berjalan dan berkemah bersama adik-adik Pramuka ini, saya memasukkan pesan dalam-dalam agar kita Bertahan untuk Hidup. Survival !. Bagaimanapun caranya. Tidak boleh bunuh diri, sebab hidup kita ini milik Tuhan sendiri. Bukan kita yang empunya kehidupan. "Lihat itu monyet di hutan. Mereka bisa bertahan hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Tidak pernah ada hewan yang bunuh diri. Hewan bisa survival !, apalagi kita yang manusia. Jika kesulitan tidak tertahankan dan semua orang sudah menolakmu, adik-adik bisa pergi dan hidup di hutan. Tetaplah bertahan hidup, dan pantang untuk membunuh diri. Serahkan kembali bendera kehidupan kita kepada Tuhan yang menciptakan hidup kita". Itu pesan yang saya ulang-ulangi agar merasuk ke dalam jiwa adik-adik Pramuka. Bukan menyuruh mereka meninggalkan kota dan hidup di hutan. Tapi mengajarkan lebih baik di hutan daripada harus bunuh diri. 

Bagaimana mengajari anak-anak kita bertahan hidup ?. Ini beberapa di antaranya. Prinsip paling dasar : Mereka boleh pulang ke rumah dalam keadaan segagal apapun. Teman saya di atas membunuh diri karena dia tidak tahu harus pergi kemana lagi. Kuliah sudah gagal dan dia tahu orangtuanya sudah habis-habisan menghabiskan tanah dan harta untuk mengirim dia sekolah ke Jakarta. Kalau dia pulang ke kampung halamannya, pastilah ayahnya mengejar dia dengan belati seperti dulu ketika dia gagal dalam beberapa kuliah. Apalagi sekarang, ketika dia sudah menerima vonis Drop Out. 

Ajari anak-cucu kita, adik-adik Pramuka kita, teman-teman kita, bahwa mereka boleh pulang ke tempat kita dalam keadaan segagal apapun. Manusia bisa gagal dan memang boleh gagal. Sebab manusia bukan coding komputer yang harus bebas dari bugs [maaf lho, saya programmer, jadi boleh kan pakai analogi komputer]. Tapi sebaliknya, manusia dicipta lewat proses belajar dari kesalahan. Kesalahan dan kegagalan hanyalah satu loop perulangan dalam hidup. Kalau gagal, berarti salah masuk loop. Coba ulangi satu putaran lagi. Begitu seterusnya. Dan jika masih gagal, engkau boleh pulang ke rumah. Sebab kami sangat mencintai dan mengasihimu. Anak-anak yang diajar dengan prinsip dasar ini, akan mengalami kelegaan dalam melewati masalah hidup apapun. Sebab mereka yakin tetap akan diterima dalam kondisi apa saja. 

Prinsip kedua : Tidak boleh bunuh diri, Tetaplah bertahan hidup. Kenapa kita melihat banyak kasus bunuh diri di kalangan remaja ? Baru putus cinta sedikit, langsung mencari tambang. Baru gagal masuk sekolah, sudah membeli baygon satu kaleng. Saya tidak paham dari sisi psikologi. Namun saya mencegah kejadian ini dengan menanamkan prinsip ini dalam-dalam kepada remaja. Tidak boleh bunuh diri !, bertahanlah hidup dalam keadaan apapun. Di Pramuka saya mengajarkan mereka hidup dan survival supaya paham bahwa mereka tetap bisa bertahan dalam kondisi seminim apapun. Tentunya saya memasukkan prinsip ini lewat permainan, game dan pelatihan ketrampilan alam bebas. 

Kalau anda jadi seorang pembina, tidak cukup hanya menguji ketrampilan bagaimana menambal ban sepeda. Katakan kepada adik-adik ini bahwa kelak jika hidup sudah menghimpit dan tidak tahu harus kemana, mereka bisa membuka usaha tambal ban untuk hidup. Berikan keyakinan ini kepada mereka. Ajari terus anak-anak kita. Ajari teman-teman kita, dan semua orang di sekitar kita. Bahwa mereka harus memperlakukan kehidupan ini dengan hormat. Ajak bicara anak-anak kita, sehingga problem apapun bisa mereka sampaikan kepada kita dengan rileks. Terakhir. Tetaplah bertahan hidup, teman-teman. Bawa kembali bendera kehidupan kita untuk diserahkan kepada Tuhan sendiri nanti, Sang Empunya kehidupan. 

Selamat Bertahan Hidup.

No comments:

Post a Comment